• June 14, 2024

Jaga Produktivitas Saat El Nino, Petani Cabai Makassar Terapkan Budidaya Ramah Lingkungan

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahan penyediaan ketersediaan pangan jangan sampai bersoal dalam memenuhi kebutuhan 278 juta jiwa penduduk Indonesia. Meskipun El Nino sudah di depan mata, namun langkah konkret dan terukur terus diupayakan untuk memastikan pertanaman tetap berproduksi dan tersedia dalan jumlah yang cukup.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direktur Jenderal Hotikultura, Prihasto Setyanto mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk harus turun dan segera melakukan pendampingan di lapangan.

“Kita harus aktif dan memberikan pendampingan terkait dengan memastikan luas kondisi existing pertamanan, serangan OPT dan dampak El Nino khusunya kekeringan agar produktivitas tetap terjaga,” ungkap Prihasto.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Jekvy Hendra menjelaskan bahwa dalam rangka menjaga produksi dan produktivitas komoditas hortikultura strategis, maka sebaiknya budidaya yang dikembangkan adalah pendekatan budidaya ramah lingkungan.

“Saat ini, Ditjen Hortikultura mendorong pengembangan Klinik PHT, yang diharapkan nantinya akan menghasilkan produk Agen Pengendali Hayati (APH) seperti Trichoderma, PGPR, Beauveria, Paenobacillus, dan lain lain,” jelas Jekvy.

Jekvy menambahkan, tanaman yang terkena serangan OPT awal di lapangan diharapkan dapat menggunakan PGPR, Paeni Bacillus atau dapat menyiram cairan pemutih baju pada pohon yang terkena serangan.

“Setelah diberikan PGPR atau disiram cairan pemutih baju, tunggu selama 10 hari hingga sudah kelihatan mati. Selanjutnya, digunting dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Cara ini merupakan langkah penanggulangan preventif secara ramah lingkungan,” terangnya.

Menurut Ketua Kelompok Tani Mamampang sekaligus Ketua Gapoktan Sukamaju, Abdurahman, kelompoknya telah mengembangkan aneka cabai di kampung ini seluas 20 ha.

“Varietas yang dikembangkan adalah Castillo dan Varietas Dewata. Lokasi kampung hortikultura ini tepatnya di Kelurahan Barombong, Kec Tamalate, Kota Makassar,” ungkapnya.

Abdurahman menambahkan bahwa saat ini kondisi pertanaman sudah berumur 150 Hari dan sudah dilaksanakan panen yang ketiga kali.

“Alhamdulillah hasilnya lumayan dengan harga cabai keriting di kisaran 17-19 ribu rupiah dengan rata rata produktivitas cabai mencapai 8-9 ton/ha. Kami suplai ke wilayah Makassar dan sekitarnya. Anggota Kelompok kami fokus pada budidaya ramah lingkungan yang dimulai dari persemaian dengan menggunakan media tanam kompos terfermentasi. Budidaya di lapangan kami tambahkan trichoderma dan PGPR. Pada lokasi pertanaman kami juga gunakan likat kuning dan adanya tanaman pembatas jagung serta penanaman refugia,” terang Abdurahman.

Kordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam Ditjen Hortikultura, Agung Sunusi pada saat ditemui di lapangan menyampaikan bahwa target pendampingan budidaya ramah lingkungan dalam menghadapi El Nino adalah lokasi penyangga cabai dan bawang merah nasional di 7 (tujuh) provinsi yaitu Jawa Timur m, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan NTB.

“Ke depan budidaya ramah lingkungan menjadi target utama dalam menjaga ketersediaan pangan khususnya hortikultura strategis,” tutup Agung.

Read Previous

Antisipasi Dampak El Nino Petani di Kabupaten Tanah Laut, Lakukan Gernas Percepatan Tanam Padi Serempak di 10 Titik

Read Next

Pertanian Kian Menguntungkan, Petani Milenal Bidik Komoditas Hortikultura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *