• February 29, 2024

Kementan Dukung Pengembangan Kacang Tunggak di Indonesia

Kacang tunggak dapat dijadikan salah satu pilihan pangan alternatif dalam rangka mendukung diversifikasi pangan. Komoditas kacang tunggak juga memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan untuk dibudidayakan. Hal tersebut terungkap dalam Bimtek Propaktani Episode 1077 dengan tema “Pengembangan Kacang Tunggak di Lahan Marginal dan di Bawah Tanaman Jeruk” (Selasa/09-01-2024).

Baison selaku pegiat dan pendamping petani kacang tunggak menjelaskan mengenai kondisi ideal untuk budidaya kacang tunggak serta potensi keuntungannya. “Kacang tunggak bisa berkembang baik pada wilayah yang mempunyai ketinggian sampai 1000 mdpl dengan temperature hawa dekat 20 °C serta tanah memiliki pH mendekati 4 dan pada kondisi curah hujan 400 – 1000 milimeter/tahun. Kacang tunggak yang kami budidayakan selain pada lahan hamparan juga ditanam di bawah tanaman jeruk, kates dan kopi. Budidaya kacang tunggak sangat menjanjikan dengan harga di pasaran mencapai Rp. 9000 / kg biji kering dengan potensi pendapatan kotor bisa mencapai Rp. 22.500.000 per hektar”, ungkap Baison.

CEO PT Bafain Haridra Indonesia sekaligus founder Yayasan Insan Madani & Desa Sejahtera Astra Malang Indra Dwi Hartanto menyampaikan mengenai pengembangan kacang tunggak untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. “Kacang tunggak adalah sejenis tanaman legum yang polong muda dan bijinya biasa disayur , seperti sayur lodeh atau brongkos. Tumbuhan ini relatif tahan kering dan biasa ditanam di pekarangan sebagai cadangan pangan keluarga. Tergantung varietas, usia tanaman berkisar 60 – 80 hst dengan kebutuhan benih 10 – 12 kg/hektar dan hasil panen 2,5 – 4 ton. Usaha tani dari kacang tunggak memiliki potensi pendapatan Rp. 18 – 30 juta per hektar”, ujar Indra.

Kacang Tunggak di Lahan Marginal dan di Bawah Tanaman Jeruk

“Kami menjadi pengembangan kacang tunggak sebagai bagian dari pengembangan produk unggulan kawasan desa berbasis ekspor melalui optimalisasi potensi lokal dan pengembangan kemitraan serta sinergi multistakeholder untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat desa melalui sejumlah program yaitu innovation of eco-farming, BIS-farming, dan innovation of global partnership”, lanjut Indra.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi turut mendukung pengembangan kacang tunggak di Indonesia. “Kacang tunggak atau disebut kacang tolo dapat ditanam hampir di mana saja (pematang sawah, lahan marginal, lahan tandus/kering) baik ditanam secara tumpang sari ataupun monokultur. Banyak ditanam di wilayah Jawa seperti Demak dan Jember dan juga di luar Jawa. Memiliki kandungan protein yang tinggi dan kaya akan nitrogen. Kami juga mendorong pengembangan kacang tunggak untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan”, jelas Suwandi.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian Amran Sulaiman agar kita semua fokus dan bergerak untuk peningkatan produksi pangan, terutama pada produktivitas padi dan jagung, juga kualitas hasil guna mensejahterakan petani”, pungkas Suwandi.

Read Previous

Kementan Sebut Ekspor Tanaman Hias Memiliki Daya Saing Tinggi di Pasar Internasional

Read Next

Pulang Kampung,Mentan Amran Tanam Jagung Di Konawe Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *