• November 30, 2023

SEKALI MENDAYUNG 2 PULAU TERLAMPAUI, BBPOPT LAKUKAN BAKTI TANI DI SUKOHARJO DAN KLATEN

Klaten, 14 Juli 2023 – Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) pada pekan ke II bulan Juli ini kembali mengadakan bakti tani, yang di laksanakan di Kabupaten Klaten dan Sukoharjo. Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada tanggal 12-14 Juli 2023 ini meliputi Pengamatan Keadaan Lapang padi dan kedelai, Bimbingan Teknis (Bimtek), Pengambilan sampel pestisida nabati Bioyoso dan Gerakan pengendalian WBC bersama Menteri Pertanian.

Pada kegiatan Bimtek pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) padi dibahas mengenai strategi pengendalian tikus pra tanam. dilaksanakan di Kelompok tani Ngudi Makmur, Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang dengan narasumber dari BBPOPT, hadir pula petugas POPT, penyuluh pertanian, mahasiswa, dan anggota kelompok tani. Dalam rencana tindak lanjut, dijadwalkan akan dilakukan gropyokan bersama seluruh anggota kelompok tani Ngudi Makmur pada tanggal 15 dan 16 Juli mendatang.

Selepas acara dilanjutkan dengan silaturahim sekaligus pengambilan sampel pestisida nabati Bioyoso, dikediaman Mbah Yoso sebagai peraciknya, yang terletak di Desa Tegalsari, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Bioyoso adalah pestisida nabati yang dipercaya mampu membunuh dan memandulkan bahkan merontokkan gigi tikus, Bioyoso sendiri diambil dari nama sang peramu yaitu Yoso Martono Suyadi. Sampel tersebut nantinya akan diuji di laboratorium BBPOPT untuk pengembangan lebih lanjut.

Berikutnya adalah kegiatan pengamatan keadaan lapang dan bimbingan teknis OPT kedelai yang dilaksanakan di lahan Korporasi Kedelai CV Sujinah di Keltan Marsudi Tani dan Mardi Tani, Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Dalam kegiatan tersebut, hadir Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), ketua kelompok tani, petani, petugas POPT, dan penyuluh pertanian. Luas tanam kedelai mencapai 70 hektar di Mardi Tani dan 30 hektar di Marsudi Tani, dengan umur tanaman sekitar 45-50 hari setelah tanam. Beberapa OPT yang ditemukan meliputi Aphis, Kutu Kebul, ulat jengkal, kepik hijau, ulat penggulung, dan ulat polong (Heliothis), dengan tingkat serangan masuk kedalam kategori rendah.

Puncak acara kegiatan ini adalah Gerakan Pengendalian Wereng Batang Cokelat (WBC) bersama Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo (SYL). Acara dilaksanakan di Dusun Karangdowo, Desa Jalin, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Hadir dalam acara tersebut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi, Direktur PSP Ali Jamil, Bupati Klaten Hj. Sri Mulyani, BBPOPT, Ditlin, Kepala BPTPH Jawa Tengah, Kepala LPHP Solo, petugas POPT, penyuluh pertanian se-Solo Raya, dan perwakilan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).
Gerakan pengendalian WBC dilakukan oleh petani dengan menggunakan bio-insektisida yang dipimpin langsung oleh SYL dan pakar tikus dari BBPOPT Yadi Kusmayadi. Dalam sambutannya, SYL mengapresiasi peran serta Bupati Klaten dan jajarannya dalam membangun sektor pertanian yang menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Ia juga menyampaikan berdasarkan hasil pengamatan bahwa populasi WBC yang ditemukan mencapai kurang lebih 7 ekor per rumpun dengan jumlah musuh alami yang relatif banyak. Kendati populasi WBC masuk kategori ringan, namun Mentan SYL meminta petani untuk tetap waspada.SYL juga mengungkapkan bahwa populasi WBC bisa meningkat disebabkan oleh jarak tanaman yang terlalu rapat, dan pengendalian dapat dilakukan dengan memanfaatkan pestisida nabati.

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan, “petani dan petugas harus selalu waspada terhadap serangan OPT, pada prinsipnya penanganan OPT itu dilakukan dengan 2 metode yaitu pencegahan dan pengendalian, utamakan dan biasakan mencegah karena mencegah itu lebih baik dari pada mengendalikan atau istilahnya antisipasi dini”, ujarnya.

Menanggapi hal tersebut bupati Klaten, Sri Mulyani menyampaikan rasa terimakasihnya kepada Kementerian pertanian yang telah banyak memberikan bantuan di Klaten, baik prasarana maupun sarana pertanian termasuk gerakan pengendalian saat ini dalam upaya penanganan hama di wilayahnya. Ia mengatakan bahwa tanah Klaten sangat subur dan sebagian masyarakatnya bergantung pada sektor pertanian. perlu diketahui luas lahan baku Klaten mencapai 31.721 hektar, luas tanam padi 73.000 hektar dan produksi gabahnya mencapai 467.000 ton, Sri berharap kerjasama dengan kementan bisa terus di tingkatkan, ungkapnya menutup sambutan.

Dikesempatan lain Kepala BBPOPT Yuris Tiyanto menegaskan komitmennya untuk terus mendukung keberhasilan program yang telah dicanangkan oleh Kementan, diantaranya adalah percepatan tanam dan peningkatan produksi, upaya tersebut Ia wujudkan dalam bentuk pengamanan produksi dan cepat tanggap OPT, “diawal musim tanam kami telah mengirimkan surat kewaspadaan kepada dinas/BPTPH di berbagai provinsi, yang isinya himbauan dan prakiraan serangan OPT yang yang perlu diwaspadai, kemudian kami juga membentuk tim tanggap OPT yaitu sebuah tim yang akan bergerak cepat untuk mengadakan gerakan pengendalian dan bimbingan teknis di wilayah yang sudah atau berpotensi terjadi serangan, alhamdulillah gerakan ini disambut baik oleh Balai Proteksi dan Dinas Pertanian, terlebih oleh para petani yang berada di akar rumput”, tuturnya.

Read Previous

Dinobatkan Sebagai Tokoh Inspiratif, HKTI Sebut Kinerja Mentan SYL Keren

Read Next

Petani Wonogiri Aplikan Biosaka Hasilkan 7,48 ton/Ha Padi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *