• February 29, 2024

Kementan Kawal Gerakan Pengendalian Hama Belalang Kembara di Sumba Timur

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengawal pengendalian hama belalang kembara, yang menyerang tanaman pangan di Pulau Sumba. Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh Kementan untuk mengelola keberadaan hama ini dan meminimalkan dampak kerusakan serta kerugian ekonomi yang terjadi sebagai akibat dari ledakan hama ini. Setelah kurang lebih satu minggu pengendalian secara serentak di Sumba Timur, belum lama ini telah dilakukan evaluasi pelaksanaan gerakan pengendalian (gerdal) serentak hama Belalang (10 /2).

Evaluasi kegiatan gerakan pengendalian hama belalang kembara yang telah dilaksanakan secara serentak se-Kabupaten Sumba Timur ini bertempat di Aula kantor Bupati Sumba Timur. Ikut menghadiri para pemangku kepentingan, diantaranya pemerintah pusat diwakili Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Bupati Sumba Timur, Dandim 1601 Sumba Timur, Wakapolres Sumba Timur, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Sumba Timur, Kepala BP3K, POPT, akademisi dari UGM Yogyakarta Andi Trisyono, Penyuluh Pertanian, dan Organisasi Perangkat Daerah lainnya.

Gerdal hama belalang kembara telah dilaksanakan secara serentak di 22 kecamatan dimana 16 kecamatan diantaranya telah berhasil menangkap belalang kembara sebanyak 21 ton yang setara dengan 36.663.000 ekor belalang baik nimfa maupun dewasa/imago.
Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih kepada semua pihak dan seluruh masyarakat yang telah bergotong royong melakukan kegiatan gerdal sehingga hasilnya memuaskan.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, FAO, UGM, dan semua jajaran Pemerintah Daerah Provinsi NTT para petani, serta semua stakeholder dan masyarakat Sumba Timur yang sangat antusias dan luar biasa bergerak mengendalikan hama belalang kembara selama sepekan ini dan sampai saat ini juga masih terus berlangsung. Saya berharap kegiatan pengendalian seperti ini terus dilanjutkan oleh para petani dan semua warga Sumba Timur. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini kita dukung dengan memberi pengganti lelah berupa 2 kg beras untuk 1 kg belalang kembara yang berhasil ditangkap”, papar Khristofel.

Pada kesempatan yang sama, Khristofel juga menyampaikan penghargaan secara simbolis kepada lima kecamatan dengan kinerja terbaik karena mampu menggerakkan masyarakat, koordinasi intensif, dan hasil tangkapan belalang kembara yang banyak. Selain itu penghargaan juga diberikan kepada petugas POPT teladan yang telah bekerja keras, dengan dedikasi tinggi, menyiapkan, melaksanakan, dan mengawal kegiatan pengendalian hama belalang kembara di Sumba Timur ini. Adapun kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Umalulu, Pahungalodu, Rindi, Wulla Waijelu, dan Lewa. Untuk petugas POPT berprestasi yang beroleh penghargaan kali ini adalah: Andreas, Domu, dan Jusuf Ully.

Khristofel menambahkan, “Untuk kecamatan dan petugas lainnya yang telah berpartisipasi, saya harapkan terus semangat dan ditingkatkan lebih baik lagi. Ini bukan berarti yang lainnya jelek atau tidak bagus. Semua bagus tapi sebagai apresiasi saya berikan kepada beberapa kecamatan dan petugas yang saya nilai dapat dijadikan teladan kita semua,” sambung alumnus Universitas Padjajaran tersebut.

Andi Trisyono, Guru Besar Universitas Gadjah Mada yang juga terlibat sebagai Tim Pengendalian belalang kembara di Sumba, menjelaskan kiat-kiat keberhasilan pengendalian dan pengelolaan hama belalang kembara di Sumba.
“Pengendalian atau pengelolaan hama belalang kembara yang sudah eksplosif di wilayah Sumba, khususnya Sumba Timur ini, maka kegiatan pengendalian yang dilaksanakan harus diorganisir dengan baik, melalui beberapa tahapan yaitu pemetaan lokasi serangan/daerah sebar, pelaksanaan pengendalian, dan evaluasi hasil pengendalian yang telah dilakukan, disertai monitoring rutin untuk melihat perkembangan populasinya. Disamping itu metode atau cara pengendalian yang dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan, seperti pada kondisi serangan di Sumba Timur yang populasinya tinggi (eksplosif) ini, maka cara pengendaliannya harus terpadu, dengan memadukan cara pengendalian mekanik dan kimia agar populasinya cepat turun. Perlu diperhatikan juga bahwa pengendalian hama belalang kembara ini harus dilakukan bersama-sama dalam kawasan yang luas,” jelas Andi.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Mohammad Takdir Mulyadi menegaskan beberapa hal mengenai hama belalang kembara di bumi Sumba ini.
“Belalang kembara di Pulau Sumba saat ini telah menjadi hama endemis, bukan lagi pandemi karena hama ini hampir setiap tahun muncul. Seperti halnya hama wereng batang cokelat (WBC) di Pulau Jawa, maka kita berharap masyarakat Sumba mulai sekarang sudah harus dapat berdampingan dengan hama ini dan dapat meningkatkan kemampuan diri dalam mengelola hama ini sehingga tidak menimbulkan kerugian ekonomi di kawasan ini,” terang Takdir.
Lebih lanjut disampaikan oleh Takdir bahwa pihaknya mengapresiasi masyarakat Sumba Timur dan semua stake holder yang telah bergotong-royong bersama melakukan gerakan pengendalian hama belalang kembara secara serentak.

Saat ini Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan telah menjalin kerjasama dengan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) untuk menjajaki kemungkinan upaya tindak lanjut berupa pengolahan belalang kembara yang berhasil ditangkap menjadi pakan ternak.
“Saya sampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada jajaran Pemerintah Daerah NTT, Sumba Timur dan seluruh warga, serta semua stake holder yang telah bersama-sama, bahu membahu melakukan gerdal belalang kembara selama sepekan ini dengan hasil luar biasa, yakni 21 ton belalang kembara berhasil ditangkap. Dan sebagai tindak lanjut dari kegiatan gerdal ini, kita sudah membuka kerjasama dengan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (PPHTP) untuk pengolahan hasil tangkapan belalang kembara yang akan diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak (pelet). Dengan demikian kita berharap di kemudian hari dapat meningkatkan nilai ekonomi belalang kembara, sehingga belalang kembara ini bukan lagi menjadi musibah bagi masyarakat Sumba, namun dapat menjadi berkah yang bermanfaat,” tegas Doktor alumni IPB tersebut.

Selaras dengan pernyataan Takdir, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi, menyatakan dukungannya, “Upaya pengendalian hama belalang kembara ini harus terus dilakukan dan berkelanjutan. Penerapan pengelolaan hama terpadu atau PHT belalang kembara ini harus diintensifkan di seluruh wilayah Sumba agar keberadaan hama ini yang sudah menjadi hama endemis di wilayah tersebut dapat dikelola dengan baik sehingga tidak lagi menimbulkan kerugian ekonomi. Bimbingan teknis pengendalian yang baik harus terus diberikan kepada petugas dan petani di Sumba untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan dalam mengendalikan serangan hama belalang kembara tersebut,” papar Suwandi

Pernyataan Takdir dan Suwandi tersebut sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), bahwa Kementerian Pertanian akan terus intensif mengawal semangat para petani dan petugas di lapangan untuk mengamankan produksi tanaman pangan dari serangan hama penyakit. “Pengawalan dan pengamanan produksi tanaman pangan harus terus kita kuatkan, secara khusus di wilayah Sumba. Pengamanan produksi tanaman pangan di wilayah ini dari serbuan hama belalang kembara harus kita lakukan dengan cara-cara pengendalian hama yang tepat dan ramah lingkungan sehingga target produksi pangan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Petani tidak rugi dan lingkunganlam tetap lestari,” tegas SYL.

Read Previous

Mana yang Lebih Menyehatkan? Ubi Ungu Atau Ubi Jalar

Read Next

Mentan SYL Kawal Panen Raya Padi di Jateng, Produktivitas Hingga 7 Ton Per Hektar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *