• May 11, 2026

Kementan Dorong Elektrifikasi Lahan, Budidaya Bawang Merah Makin Efisien

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mendorong efisiensi dalam budidaya bawang merah. Salah satunya melalui penggunaan energi listrik untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM) dalam budidaya pertanian atau kita kenal sebagai Agro – Electrifying. Bentuknya berupa Kerjasama petanidengan PLN untuk memasang jaringan listrik di lahan sebagai sumber energi penggerak sarana produksi. Penggunaan energi listrik terbukti sangat membantu petani dalam budidaya mulai dari pengolahan lahan, irigasi, pengendalian hama penyakit hingga penanganan pascapanen. Berkat adanya Listrik Masuk Lahan ini pula, biaya energi listrik yang dikeluarkan petani menjadi lebih irit hingga 70 -80%.

Direktur Jenderal Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule, saat dikonfirmasi menyebut pihaknya sangat mendukung inisiasi para petani di sentra-sentra produksi bawang merah seperti Solok, Enrekang, Bantul dan Nganjuk memasang instalasi listrik sampai ke lahan secara legal, untuk menghemat pengeluaran biaya produksi. “Terbukti di sentra-sentra tersebut, bisa menghemat biaya energi listrik sampai 70 – 80% jika dibandingkan menggunakan BBM. Ini tentu sangat berpengaruh terhadap penghasilan petani di tengah tantangan produksi saat ini,” ujar Taufiq.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Muh Agung Sunusi saat meninjau langsung Kawasan bawang merah Agro electrifying di Parangtritis Kretek Bantul (9/5), menjelaskan bahwa penggunaan listrik PLN telah mengubah cara budidaya petani bawang merah di daerah tersebut. “Berdasar pengalaman empirik di lapangan, penggunaan energi listrik di kawasan produksi bawang merah untuk mensubtitusi BBM, mampu menghemat biaya hingga 70-80%. Sangat efisien. Penggunaan pompa listrik PLN dilaporkan 10x lebih hemat biaya dibanding menggunakan BBM. Dengan efisiensi sebesar itu, tentu pendapatan petani akan meningkat,” beber Agung. Kerjasama Kelompoktani dengan PLN yang didukung Kementan dan Pemda setempat, terbukti efektif memacu perluasan tanam dan produktivitas bawang merah.

Kadiso, Ketua Kelompoktani Paris Makmur Kretek Bantul, menyebut biaya pemasangan instalasi listrik per titiknya sebesar Rp 2,65 juta. “Itu sudah komplit biaya administrasi PLN, pemasangan, alat-alat dan instalasinya. Petani sangat senang karena biaya produksi langsung terasa berkurang jauh. Yang biasanya harus keluar Rp 900 ribu untuk bayar BBM, bisa hanya keluar Rp 100 ribu. bisa untuk ngidupkan pompa air, ngecas sprayer, lampu light trap dan sebagainya. Ngirit pokoknya,” ujar Kadiso yang dibenarkan anggota lainnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo ditempat yang sama mengaku senang dengan usaha dan inovasi petani bawang merah di wilayahnya. Hingga kini tercatat sekitar 3.300 titik lahan telah terpasang instalasi PLN. Dari jumlah tersebut sebanyak 1000 titik khusus untuk lahan bawang merah.

“Berdasar statistik dan cek lapang riil, luas tanam bawang merah Bantul tahun lalu mencapai 1.687 ha, dengan produksi 17.787 ton atau setara 13 ribu ton rogol kering panen. Dengan kebutuhan lokal Bantul 6.300 ton, kami sudah surplus produksi. Sentra utamanya di Kretek, Sanden dan Imogiri. Untuk Kawasan Parangtritis karena listriknya sudah jalan bisa maksimal tanam bulan Maret dan Juni nanti,” terangnya.

Read Previous

Spintein Casino: The Gateway toward Premium Online Entertainment Excellence

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *