Bagi sebagian besar orang, keterbatasan fisik adalah sebuah akhir dari babak perjuangan. Namun bagi Letnan Dua (Letda) Mugiyanto, kehilangan kaki kanan hanyalah sebuah babak baru untuk membuktikan bahwa pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan pernah bisa diamputasi.
Kisah sang perwira TNI AD yang dijuluki “Jenderal Kelengkeng” ini adalah bukti nyata bahwa seorang prajurit sejati tidak pernah benar-benar berhenti berjuang, ia hanya berganti medan pertempuran.
Tragedi yang Menempa Jiwa Kesatria
Jauh sebelum ia dikenal sebagai pakar pertanian, Mugiyanto adalah seorang prajurit tangguh yang mengabdikan seluruh jiwa raganya di garis depan. Tugas memanggilnya ke tanah Maluku saat konflik amfibi dan pengamanan membara di Ambon.
Dalam sebuah operasi yang penuh risiko, langkah kakinya terhenti oleh dentuman keras. Sebuah ranjau darat meledak, menghancurkan kaki kanannya.
“Tugas adalah kehormatan. Ketika kaki ini harus hilang demi tegaknya merah putih, saya tidak pernah menyesal.” Ujarnya
Kehilangan kaki kanan secara fisik sempat memberikan pukulan berat, namun mental baja seorang kesatria bangsa tidak membiarkannya larut dalam ratapan. Mugiyanto bangkit dengan kaki palsunya. Baginya, jantung yang masih berdetak adalah perintah dari Tuhan untuk terus mengabdi pada bumi pertiwi.
Dari Medan Laga ke Kebun Kelengkeng
Setelah masa pemulihan, Mugiyanto menemukan “medan pertempuran” barunya: Ketahanan Pangan. Ia melihat bahwa Indonesia yang agraris memiliki potensi luar biasa yang belum tergarap maksimal. Pilihan hatinya jatuh pada budidaya buah kelengkeng.
Dengan ketekunan yang sama saat ia berlatih militer dan dukungan dari Kementerian Pertanian, Mugiyanto mempelajari seluk-beluk pertanian. Ia bereksperimen, gagal, mencoba lagi, hingga akhirnya berhasil mengembangkan perkebunan kelengkeng yang sangat produktif. Dedikasinya yang luar biasa dalam menghijaukan tanah dan menyejahterakan masyarakat sekitar membuatnya mendapat julukan hormat dari media, netizen dan masyarakat: “Jenderal Kelengkeng” .
Mengabdi Tanpa Batas: Pengajar 3 Matra dan Petani Indonesia
Kini, dengan pangkat Letnan Dua, wilayah pengabdian Letda Mugiyanto justru semakin meluas. Ia tidak hanya menginspirasi warga sipil, tetapi juga menjadi guru bagi rekan-rekan sejawatnya di militer.
Letda Mugiyanto aktif mengajar dan membagikan ilmunya ke berbagai lapisan:
- Petani Indonesia: Mengajarkan teknik budidaya kelengkeng modern, cara pemupukan yang efisien, hingga manajemen pascapanen agar petani lokal bisa mandiri secara ekonomi.
- Prajurit TNI 3 Matra (AD, AL, AU): Membekali para prajurit aktif maupun yang menjelang masa pensiun dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara dengan keterampilan bertani. Ini adalah bekal berharga agar para prajurit tetap produktif dan manunggal dengan rakyat melalui sektor pangan.
Melalui kisah Letda Mugiyanto, kita diajarkan bahwa patriotisme tidak selalu berpakaian loreng dan memegang senjata di medan perang. Hari ini, patriotisme juga berarti memakai sepatu bot, turun ke lumpur, dan memastikan perut rakyat Indonesia terisi dengan hasil bumi sendiri.
Kaki kanannya mungkin telah terkubur di tanah Ambon, namun jejak langkah kebaikannya kini tertanam subur di seluruh pelosok negeri melalui rimbunnya pohon-pohon kelengkeng yang ia semai. Beliau adalah kesatria sejati, sang Jenderal Kelengkeng.