JAKARTA, 14 Juli 2026 – Kementerian Pertanian (Kementan) melalu Direktorat Jenderal Hortikultura menerima audiensi Tim Science Club Liberica Academy Indonesia di Ruang Rapat Sayuran dan Tanaman Obat (Senin (13/7) guna memberikan pembekalan dan dukungan moril kepada lima siswa SMA berprestasi yang akan mewakili Indonesia dalam ajang internasional World Invention Creativity Olympic (WICO) 2026 di Korea Selatan pada 16–18 Juli mendatang melalui inovasi pupuk nano ramah lingkungan bernama “Pumpilizer”.
Tim ilmiah yang terdiri dari gabungan siswa SMAN 71, SMAN 91, SMAN 44, dan SMA MH Thamrin Jakarta ini berhasil menciptakan “Pumpilizer”. Produk ini merupakan formula pupuk nano (nanofertilizer) berbasis pemanfaatan limbah rumah tangga, khususnya biji labu dan minyak jelantah, yang diolah menjadi sumber nutrisi alternatif kaya unsur hara untuk tanaman.
Inovasi ini mengusung teknologi formula granul berlapis (coated granule fertilizer).
Keunggulan teknologi ini terletak pada kemampuannya meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh tanaman sekaligus mencegah pupuk mudah larut atau hanyut terbawa air saat penyiraman atau hujan.
Berdasarkan hasil uji coba mandiri yang dilakukan tim pada tanaman cabai hingga usia 35 hari, formula “Pumpilizer” terbukti merangsang pertumbuhan batang yang lebih kokoh, percabangan yang lebih banyak, serta daun yang lebih subur. Fase vegetatif yang optimal ini diyakini akan berdampak signifikan pada peningkatan produksi buah per pohon saat memasuki fase generatif.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, memberikan apresiasi tinggi sekaligus pembekalan materi penting guna mematangkan kesiapan tim sebelum bertolak ke Korea Selatan.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi tinggi kreativitas luar biasa dari generasi muda ini. Inovasi ‘Pumpilizer’ tidak hanya menjawab tantangan ketergantungan sektor pertanian kita terhadap pupuk sintetik, tetapi juga menjadi solusi cerdas dalam pengelolaan limbah rumah tangga secara mandiri. Ini adalah langkah konkret regenerasi pertanian yang berwawasan lingkungan,” ujar Direktur STO dalam arahannya.
Meski demikian, Agung juga menekankan pentingnya penguatan metodologi ilmiah agar riset ini memiliki daya saing yang kuat di tingkat internasional serta dapat diaplikasikan secara berkelanjutan di masyarakat.
“Kami menyarankan agar tim memperkuat data ilmiah pendukung, khususnya mengenai kandungan unsur hara makro dan mikro seperti NPK, serta melanjutkan uji coba ini hingga tanaman cabai benar-benar berproduksi demi melihat perbandingan before-after yang komprehensif. Ke depan, penting juga mengkaji dampak lingkungan dari pupuk semi-organik ini serta pengaruhnya terhadap pemanfaatan lahan pekarangan,” tambah Agung.
Melalui dukungan dan pembekalan ini, Kementerian Pertanian berharap Tim Science Club Liberica Academy Indonesia dapat mengharumkan nama bangsa di ajang WICO 2026, sekaligus menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk melahirkan inovasi teknologi yang mendukung keberlanjutan pertanian nasional dan kelestarian lingkungan.