Jakarta (14/12) – Dinamika harga bahan pangan pokok masih mewarnai sejumlah pemberitaan menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Salah satu komoditas yang menjadi perhatian publik adalah bawang merah, yang secara historis kerap mengalami kenaikan harga pada momen akhir tahun.
Harga bawang merah tercatat mulai meningkat sejak pertengahan November 2025, setelah pada dua bulan sebelumnya justru menjadi penyumbang andil deflasi. Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh penurunan luas tanam pada September 2025 untuk panen November, khususnya di sentra Pantura Jawa. Kondisi ini dipicu oleh tingginya harga benih, alih fungsi lahan ke komoditas padi sawah, serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Namun demikian, seiring semakin dekatnya perayaan Natal dan Tahun Baru, pasokan bawang merah dari sentra produksi ke pasar induk terpantau terus meningkat. Sejumlah daerah sentra utama seperti Brebes, Solok, Nganjuk, dan Enrekang mulai memasuki puncak panen pada pertengahan Desember 2025.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah memastikan ketersediaan pangan strategis, termasuk bawang merah, dalam kondisi aman dan terkendali menjelang Nataru.
“Pemerintah hadir untuk menjamin pasokan pangan masyarakat tetap aman. Kami memastikan produksi bawang merah mencukupi, distribusi berjalan lancar, dan tidak ada alasan harga melonjak menjelang Natal dan Tahun Baru. Jika terjadi gejolak, kami akan segera melakukan langkah pengendalian,” tegas Mentan Amran.
Ketua Champion Bawang Merah Indonesia, Dian Alex Candra, menyampaikan bahwa produksi bawang merah nasional pada Desember 2025 diperkirakan mencapai lebih dari 180 ribu ton.
“Panen bulan Desember lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, dan akan semakin meningkat pada Januari 2026. Saat ini panen sudah berlangsung di Enrekang, Solok, serta sentra-sentra utama di Pulau Jawa,” jelas Alex.
Hal senada disampaikan Champion Bawang Merah Kabupaten Solok, Amri Ismail. Ia menyebutkan bahwa luas panen bawang merah di wilayahnya pada Desember mencapai lebih dari 1.300 hektare.
“Selama ini pasokan bawang merah dari Solok didistribusikan ke berbagai daerah seperti Sumatera, Jambi, Aceh, Palembang, hingga sebagian wilayah Jawa,” ungkap Amri.
Peningkatan pasokan tersebut mulai berdampak pada pergerakan harga di tingkat petani. Di sejumlah sentra utama di Pulau Jawa, harga bawang merah terpantau turun pada kisaran Rp28.000 hingga Rp33.000 per kilogram. Akat, petani sekaligus Champion bawang merah asal Rejoso, Kabupaten Nganjuk, mengonfirmasi tren penurunan harga tersebut.
“Tiga hari lalu harga masih di kisaran Rp36.000 per kilogram, namun kemarin sore sudah turun menjadi sekitar Rp28.000 per kilogram di tingkat petani. Sejak Minggu kedua Desember panen mulai ramai, dan hingga Januari 2026 luas panen diperkirakan mencapai 1.000 hektare,” ujar Akat.
Lebih lanjut, Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Kementerian Pertanian akan terus mengawal stabilisasi pasokan dan harga pangan strategis melalui penguatan produksi, distribusi, dan sinergi lintas sektor.
“Kami berkomitmen menjaga stabilitas harga pangan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan para pelaku usaha tani terus kami perkuat demi ketahanan pangan nasional,” pungkas Mentan Amran.
Menindaklanjuti arahan Mentan Amran, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Agung Sunusi, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan para Champion bawang merah serta dinas pertanian di daerah sentra produksi.
“Secara umum, seluruh daerah melaporkan kondisi bawang merah di wilayah masing-masing masih aman, termasuk di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Ketersediaan dan harga bawang merah pada periode Natal dan Tahun Baru diperkirakan aman dan terkendali,” jelas Agung.
Pemerintah terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah serta para Champion bawang merah untuk memastikan pasokan tetap terjaga dan harga berangsur kembali normal seiring meningkatnya panen dari berbagai sentra produksi nasional.