• June 21, 2024

Tingkatkan Daya Saing, Kementerian Pertanian Dorong Elektrifikasi Hortikultura

Kementerian Pertanian sebagai institusi yang menggawangi pertanian sangat menyikapi upaya positif menjaga ketahanan pangan, termasuk upaya eletrifikasi. Elektrifikasi di sektor pertanian berperan meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pertanian berkelanjutan di seluruh negeri.

Dalam Kompas Talk bertajuk Ketahanan Pangan Melalui Elektrifikasi Agrikultur, Sekretaris Ditjen Hortikultura, Taufiq Ratule menyebutkan bahwa arah pembangunan hortikultura secara umum adalah meningkatkan daya saing hortikultura. Daya saing ini di antaranya memiliki tujuan utama ke arah peningkatan produksi, produktivitas dan penguatan akses pasar.

“Agar mencapai daya saing yang diinginkan, strategi yang kami lakukan antara lain melalui pengembangan kampung hortikultura, penumbuhan UMKM hortikultura dan modernisasi hortikultura melalui sistem informasi,” ujar Taufiq, Rabu (12/7).

Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian untuk menjadikan sektor pertanian yang modern, terang Taufiq, beberapa kawasan hortikultura telah menerapkan elektrifikasi. Hasil di lapangan menunjukkan signifikansi pada produksi dan produktivitas. Di antaranya pada kawasan cabai dan bawang merah berlahan pasir Pantai Sanden, Bantul DIY yang dulunya menggunakan pompa BBM, kini telah menggunakan pompa listrik PLN. Dengan beralih ke pompa listrik PLN terdapat efisiensi 10 kali lebih hemat.

“Pendapatan bawang merah yang tadinya Rp 140 juta/hektare dari modal Rp 110 juta/hektare meningkat menjadi Rp 245 juta/hektare. Pendapatan cabai yg tadinya Rp 160 juta/hektare dari modal Rp 120 juta meningkat menjadi Rp 340 juta/hektare dari modal Rp 80 juta/hektare”

Hadir di acara yang sama, Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko berharap pemerintah dapat mengkaji kebijakan subsidi listrik khusus bagi petani. Petani sebagai garda terdepan menjaga pangan negeri sudah sepantasnya diberi akses listrik berbiaya murah.

“Apakah bisa pemerintah menyiapkan subsidi untuk para petani? Ini skema belum ada, yang ada baru skema kebutuhan rumah tangga untuk 450 VA dan 900 VA. Jadi untuk pertanian memang belum ada,” ujarnya.

Dirinya memahami betul, pertanian modern di dunia memaksimalkan penggunaan teknologi, mulai dari penyiapan benih hingga pasca panen. “Ini merupakan rangkaian proses yang panjang di mana posisi elektrifikasi diperlukan dalam proses pertanian mulai dari tanam awal sampai pasca panen,” pungkasnya.

Read Previous

Petakan Kawasan Kekeringan, Kementan Optimis Hadapi El Nino

Read Next

Dukung Kedaulatan Pangan Nasional, Kementan Gelar Supervisi Project Completion Report

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *