• June 14, 2024

MENGKRITISI KEPOPULERAN BIOSAKA

Dr. Ir. I Wayan Suastika, M.Si

Peneliti Ahli Madya Pada BRIN, OR Tanaman Pangan

Email: isuastika@yahoo.com

Pendapat dari tim Pakultas Fertanian Universitas IPB, komposisibahan baku yang beragam dan tidak terstandar, Biosaka akanmenjadi larutan yang memiliki komposisi dan kandungan bahanaktif yang bervariasi. Biosaka tidak dapat distandardisasi secarailmiah untuk mendapatkan peran bahan aktif Biosaka terhadappertumbuhan dan hasil tanaman. Klaim bahwa Biosaka dapatmeningkatan pertumbuhan, meningkatkan efisiensi pupuk, dan meningkatkan hasil menjadi kurang valid untuk diterapkansecara umum.

Biosaka sering disebut sebagai elisitor. Hubungan langsungantara elisitor dan peningkatan produksi dan efisiensipenggunaan pupuk, sampai saat ini belum dapat dijelaskandengan baik. Kandungan jenis metabolit sekunder dari Biosakaakan selalu bervariasi tergantung pada jenis tumbuhan yang digunakan sebagai bahan baku Biosaka.

Dari berbagai bahan aktif Biosaka, hanya fitohormon yang mungkin memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi tanaman, sehingga mungkin sajaBiosaka dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman. Akan tetapi hal ini masih perlu pembuktian secara ilmiah, melalui percobaan yang didesain dan dilaksanakan sesuaiprosedur ilmiah yang benar.

Tanaman padi tetap memerlukan pupuk NPK, jika hanya diberiBiosaka maka hasilnya lebih rendah dari tanaman kontrol tanpaBiosaka. Klaim bahwa Biosaka dapat mensubtitusi 50% pupukNPK dan meningkatkan hasil tidak dapat dibuktikan pada percobaan-percobaan tersebut. Perlakuan dengan Biosaka (P1) justru memberikan hasil yang lebih rendah dibanding perlakuantanpa pupuk (P0).

Penggunaan Biosaka harus tetap dibarengi dengan penggunaanpupuk anorganik dan/atau pupuk organik karena Biosaka tidakmengandung hara-hara esensial makro ataupun mikro yang cukup. Penggunaan Biosaka tanpa penambahan pupukanorganik dan atau organik, dikhawatirkan dalam jangkapanjang akan menguras hara-hara tanah sehingga di kemudianhari tanah akan kehabisan hara-hara esensial.

Pemanfaatan Biosaka dalam praktek budidaya tanaman harusselalu didasarkan pada status hara tanah dan kebutuhan minimal tumbuhan akan unsur hara. Oleh karena itu, pemberian Biosakatidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus diimbangi denganpemberian pupuk organik dan/atau pupuk anorganik, agar keberlanjutan ketersediaan hara di dalam tanah selalu terjaga.

Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) sampai saat ini juga belum merekomendasikan pemanfaatan Biosaka sebelum adahasil penelitian/uji/kajian  dengan standar ilmiah lingkup ilmu-ilmu tanah-tanaman-lingkungan  yang valid. Uji multi-lokasisangat diperlukan dalam membuat rumusan, mengingatIndonesia mempunyai keragaman tanah dan lingkungan yang cukup besar.

Biosaka mungkin dapat memberi efek psikologis ke petaniketika harus menurunkan dosis pupuk kebiasaan yang berlebihan ke dosis rekomendasi, sehingga petani akan merasaaman untuk menerapkan dosis pupuk yang sesuai kebutuhantanaman ketika dibarengi dengan aplikasi biosaka.

Read Previous

Kementan dan KTNA Jalin Komitmen Antisipasi Perubahan Iklim dan Krisis Pangan Global

Read Next

Momen PENAS Petani Nelayan XVI, Kementan dan KTNA Berkomitmen Jaga Pasokan Hortikultura Hadapi El-Nino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *