• June 14, 2024

Pemantapan RKAKL PAGU Alokasi TA 2024, Ditjen Hortikultura Siapkan Program Lebih Efektif

Tangerang – Ditjen Hortikultura mengadakan workshop Pemantapan RKAKL PAGU Tahun Anggaran 2024. Kegiatan yang berlangsung 2-4 Oktober 2023 ini dihadiri oleh Dinas Pertanian 34 propinsi untuk mensinergiskan program pusat dan daerah. Tak hanya menetapkan kegiatan besar hortikultura, juga termasuk merancang kegiatan teknis dengan menerapkan rambu-rambu pelaksanaan berdasarkan ketersediaan anggaran.

“Pelaksanaan program kegiatan 2024 diharapkan semakin mantap. Dinamika perencanaan ini selalu di-update sesuai kondisi. Seperti yang kita ketahui bahwa perencanaan adalah kegiatan manajemen yang penting guna menetapkan output. Dengan perencanaan yang baik, kita mampu meminimalisir kegagalan karena berfungsi sebagai lokomotif. Jika perencanaan terlaksana dengan baik maka artinya 50 persen pekerjaan telah selesai dilaksanakan dengan baik. Perencanaan menentukan pencapaian suatu organisasi yang artinya harus dapat diimplementasikan dengan baik,” ujar Sekretaris Ditjen Hortikultura, Muhammad Taufiq Ratule saat membuka acara, Senin (2/10).

Hal berbeda pada 2024 nantinya, lanjut Taufiq, bahwasanya kegiatan perbenihan yang terdiri dari benih dan saprodi akan melekat pada direktorat teknis. Besaran biaya komponen utama sebesar 93-94 persen berasal dari total anggaran per rincian output (RO) dan komponen biaya pendukung terhadap total biaya keluaran barang infrastruktur sebesar 6 persen. Batasan besaran biaya pendukung terhadap total biaya keluaran (output) barang non infrastruktur sebesar 7 persen.

“Pada 2024 nanti beberapa produksi komoditas strategis ditargetkan naik. Di antaranya cabai pada 2023 ditargetkan mencapai 3 juta ton, bawang merah 1,74 juta ton, bawang putih 45,91 ribu ton, kentang 1,41 juta ton, pisang 8,93 juta ton, manggis 288,4 ribu ton, durian 1,36 juta ton, anggrek 21,4 juta tangkai, krisan 441 juta tangkai dan jahe 209 ribu ton,” papar Taufiq.

Pelaksanaan kampung sayuran pada 2023 diketahui 1704 kampung dan ditargetkan meningkat 2024 menjadi 2.180 kampung. Untuk kampung buah pada 2024 ditargetkan berjumlah 527 kampung sementara pada 2023 sejumlah 678 kampung.

Taufiq menerangkan bahwa pada 2024 diharapkan mampu meminimalisir temuan berulang baik terkait pengendalian OPT di mana pengendalian gerdal OPT belum tepat musim, bahan gerdal belum dimanfaatkan, peralatan klinik PHT belum dioptimalkan pemanfaatannya. Sementara untuk distribusi benih dan saprodi terjadi ketidaksesuaian distribusi benih dan saprodi. Di sisi lain, penumbuhan UMKM terkait bantuan sarana dan prasarana UMKM belum tepat sasaran, penggunaan alat belum optimal dan kegiatan UMKM yang tidak berkembang. Sementara itu untuk penyediaan benih, terdapat pohon induk yang tidak terawat dan target produksi yang tidak tercapai. Hal ini menjadikan produktivitas yang rendah baik itu pada cabai, bawang merah dan bawang putih.

Berkaca pada evaluasi 2023, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Andi Muhammad Idil Fitri mengatakan bahwa prioritas pengembangan cabai dan bawang berfokus pada wilayah minus dan penyumbang inflasi serta wilayah penyangga pasokan. Selain juga terus mengembangkan bawang putih lokal dan pengembangan tanaman obat untuk kemitraan dan ekspor. Termasuk pengembangan sayuran buah, sayuran daun dan tanaman obat di lahan rawa dan gambut.

“Sayuran pekarangan (P2L) dan kawasan STO skala luas (Food Estate) termasuk program kami di tahun depan. Fasilitas prasarana pendukung seperti nurseri, kubung jamur dan hidroponik serta utamanya kampung sayuran. Khusus kampung sayuran dan tanaman obat ini, kami memiliki aplikasi SRIKANDI yang memudahkan untuk melakukan monitoring dan evaluasi di mana salah satunya kampung tersebut memiliki penanda papan informasi kampung yang sedang dikembangkan,” papar Idil.

Mendampingi, Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman mengatakan bahwa kegiatan strategis buah dan florikultura dikembangkan dalam bentuk kampung buah dan florikultura teregistrasi guna terciptanya One Village One Variety. Pengawalan terkait pengembangan ini akan dilakukan secara intensif dari hulu ke hilir. Termasuk memudahkan akses pendukung masuk terkait permodalan (KUR), mekanisasi pertanian dan pengairan.

“Target kami adalah pemenuhan kebutuhan produk segar dan olahan dalam negeri, peningkatan ekspor produk buah dan florikultura, substitusi impor produk buah dan florikultura serta pengembangan agrowisata dan agroeduwisata,” jelas Liferdi.

Sementara itu Direktur Perlindungan Hortikultura, Jekvy Hendra menyebutkan, “Kegiatan kami pada 2024 terdiri dari pengembangan gerdal OPT, Kelompok Tani Terlatih Pengendalian Hama Terpadu (KTPHT), penanganan dampak perubahan iklim, dan pendirian klinik PHT.

Dari sisi hilirisasi, fokus Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura mengatakan pada 2023 terdapat 445 UKM hortikultura. UKM ini akan dipersiapkan masuk pasar ekspor melalui pendampingan sertifikasi GAP, GHP, HCCAP dan sertifikasi halal.

“Selain itu kami akan mengembangkan UKM menjadi IKM, pendampingan dari sisi pembiayaan dan bimbingan teknis manajemen dan teknologi,” pungkas Direktur PPHH, Bambang Sugiharto.

Read Previous

Menjelang MotoGP Mandalika, Valentino Rossi Bicara Tentang Indonesia

Read Next

Kementan Tetap Optimis Jaga Pertanaman di Masa El Nino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *